Cekskor.com - Kamis (25/8)
tepat 20 tahun lalu Michael Schumacher melakukan debut di F1. So, tak
salah jika Schumi merayakannya dengan pesta di Sirkuit Spa-Francorchamps
jelang GP Belgia, Minggu (28/8). Tak hanya legendaris F1 yang memberi selamat juara dunia F1 7 kali itu. Tapi, juga sejumlah legendaris dari cabang olahraga lain. Termasuk, legendaris tenis Jerman Boris Becker.
Becker tak sungkan mengaku fan berat Schumi. Ia bahkan menyebut pembalap Jerman berusia 42 itu sebagai olahragawan sepanjang masa dan legendaris olahragawan Jerman.
"Sangat unik seseorang bisa begitu sukses dalam periode sangat lama, terutama di F1," ucap Becker.
Sayangnya, tak sedikit nada sinis mengarah kepada Schumi yang kembali ke F1 setelah pensiun pada akhir musim F1 2006. Apalagi, comeback-nya pada 2010 ini tak sukses.
Hingga kini total 30 balapan sudah dilakoni Schumi. Tapi, tak sekalipun ia mampu merebut podium. Becker bisa memahami emosi yang dirasakan Schumi saat balik ke lintasan.
Hanya, Becker samasekali tak yakin Schumi mampu melawan para pembalap muda macam Sebastian Vettel dan Lewis Hamilton. Apalagi, Schumi memakai mobil F1 Mercedes yang tak mumpuni.
"Sangat tak mungkin pembalap beruisa 40 menang melawan pembalap berusia 20. Seorang olahragawan ada batasnya. Begitu berusia 30 atau 33, ia tak punya fisik sekuat sebelumnya. Bukan hanya karena mobil atau ban, tapi pembalap veteran akan lebih berhati-hati," papar Becker yang pensiun dari tenis di usia 32 pada 1999.
"Semua ahli F1 tahu seorang pembalap tak akan menang dengan mobil yang jelek. Jika Vettel memakai Mercedes, ia belum tentu memenangi balapan, Tapi, kembalinya Schumi sangat positif buat dunia F1, terutama bagi Mercedes Benz," imbuh eks petenis berusia 43 itu.
Meski begitu, Becker membela Schumi dari cibiran sejumlah legendaris F1. Mereka menyebut kehebatan Schumi sesungguhnya lantaran ia berada di Ferrari, bukan murni dari kemampuan balapnya.
"Tak pada tempatnya, para legendaris F1 itu mengkritik Schumi di publik dan memintanya pensiun lagi. Itu tak bijaksana dan tak berkelas. Schumi pasti tahu saat ini ia bertarung dengan kondisi tak optimal," terang Becker, pemegang rekor juara termuda Wimbledon.
Secara pribadi, Becker mengenal Schumi sebagai sosok yang bersahaja. Becker punya memori yang tak terlupakan ketika mewawancarai Schumi pada balapan terakhir sebelum pensiun di Sao Paulo, Brasil, pada 2006.
"Balapan terakhir Schumi tak terlupakan. Tak hanya lantaran saya ada di Sao Paulo. Tapi, juga karena saya dapat kesempatan mewawancarainya untuk sebuah stasiun televisi Jerman. Pertanyaan-pertanyaan saya jadi yang terakhir di sesi itu. Ia sedikit terkejut, begitu pula saya. Itu momen yang sangat hebat yang saya alami bersamanya," pungkas Becker. (CS/07)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar